Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur mengundang seluruh kepala sekolah untuk menugaskan guru mengikuti seminar Kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA). MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) turut hadir dalam forum diskusi yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Senin (23/6/2025).
Acara ini dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan. Para peserta menyerap informasi penting terkait tantangan dan peluang pendidikan di era digital, khususnya dengan hadirnya kurikulum koding dan KA sebagai respons terhadap dinamika global yang terus berubah dengan cepat.
Seminar dibuka oleh Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim Prof Khozin. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa risalah Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus terus mendorong ijtihad dan tajdid (pembaruan).
“Teknologi memberikan banyak manfaat bagi anak-anak kita. Bahkan, hasil riset menunjukkan bahwa semakin canggih teknologi, masyarakat justru semakin memperkokoh nilai-nilai Islam,” ujar Prof Khozin.
Untuk mendukung implementasi kurikulum ini, Majelis Dikdasmen PWM Jatim menggandeng Marshall Cavendish Education dari Singapura, dengan pertimbangan kemudahan dan efisiensi biaya.
Salah satu narasumber, Rahmania, dosen PTI UMSIDA, menjelaskan bahwa dalam menyikapi kemajuan teknologi, manusia dihadapkan pada pilihan: memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) atau pola pikir tetap (fixed mindset).
“Jangan menjadi pribadi yang tidak mau berusaha. Jika memiliki fixed mindset, kita akan stagnan dan tidak berkembang. KA dan manusia harus berkolaborasi, bukan saling menguasai,” jelasnya.
Dalam struktur Kurikulum Merdeka, integrasi koding dan KA untuk tingkat sekolah dasar mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan pada jenjang kelas 5 dan 6.
Menanggapi hal itu, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menyatakan kesiapannya untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut. Sekolah ini telah memiliki kegiatan ekstrakurikuler koding yang disambut antusias oleh siswa.
Namun, pihak sekolah menilai masih diperlukan perencanaan yang lebih matang, termasuk sosialisasi kepada orang tua dan penyesuaian dengan kurikulum nasional serta kesiapan biaya.
“Kami menyambut baik program ini dan insyaallah kami siap menerapkannya. Hanya saja perlu disosialisasikan lebih lanjut kepada orang tua, khususnya kelas 5 dan 6 yang menjadi fokus program ini,” terang Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya.
(Ana Rose)

